Harianwarta1.com - Sejumlah anggota Komisi X DPR
mempertanyakan program magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang
digagas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek)
Nadiem Makarim yang kini sudah berjalan.
Program magang dengan uang saku untuk mahasiswa itu dikritik
karena dinilai belum mengayomi seluruh program studi kuliah di perusahaan atau
kementerian yang dituju.
Menurut anggota Komisi X DPR Fraksi PDIP Andreas Hugo Pareira,
program MBKM belum bisa diikuti oleh semua mahasiswa akibat masalah akses.
"Pertama tadi prof Nizam [Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset,
dan Teknologi] menjelaskan ini memungkinkan semua mahasiswa mempunyai akses
yang sama. Tolong berikan jaminan bagaimana seluruh mahasiswa itu mempunyai
akses yang sama? Karena saya lihat di daerah-daerah mau ikut program ini
terhalang," kata Andreas di DPR, Kamis (27/1).
"Ini soal akses tadi, Pak. Saya kira ini satu hal yang
perlu agar program ini mempunyai aspek keadilan, tidak hanya di atas kertas
tapi juga ini terjadi," sambung dia.
Kritik juga disampaikan anggota dari Fraksi PDIP lainnya, Esti
Wijayati. Menurut dia, Kemendikbudristek masih belum menghapuskan keraguan
ihwal mahasiswa yang ingin ikut MBKM dengan lintas jurusan.
"Menurut saya memang perlu ada detil pembahasan. Misalnya
ketika mahasiswa kuliah di jurusan kedokteran hewan, lalu saya ingin jadi
wiraswasta, dan magang di Kemenperin. Apakah SKS mahasiswa tersebut bisa terisi
nilainya dengan program magang yang berbeda jurusan itu," ujar Esti.
"Tapi mungkinkah program itu bisa mengakomodir mahasiswa
dari jurusan apapun? Saya kira ini yang perlu didetilkan oleh
Kemendikbudristek," tuturnya.
Sementara anggota Komisi X dari Fraksi Partai Golkar,
Ferdiansyah menyinggung klaim Kemendikbudristek yang menyebut program magang
MBKM ini bisa menciptakan iklim kondusif di dunia pendidikan sehingga
menghasilkan mahasiswa yang siap kerja.
"Dalam konteks program kampus merdeka, disebutkan
menciptakan ekosistem yang baik, indikatornya apa saja? Karena budaya kerja
masing-masing perusahaan kan berbeda," tuturnya.

0 Komentar